Si Kecil yang Membawa Pengharapan

Pada waktu mengakhiri tahun ajaran 2015/ 2016, saya telah diberikan pesan oleh pemimpin saya untuk menjadi wali kelas , di kelas 3 B dengan kondisi salah satu anak yang secara spesial di dalam kelas. Saya menerima tugas tersebut hanya minta pimpinan Tuhan, supaya bisa mendidik dan mengajar jiwa – jiwa yang sudah Allah percayakan. Salah seorang anak tersebut saya sudah melihat bagaimana sikap nya dari kelas 1 – 2, tetapi di kelas 2 siswa tersebut sudah mengalami adanya perubahan. Sekilas saya pernah melihat tingkah anak tersebut dulu di kelas 1 jika masuk ke kantor pernah tiduran di lantai, dan agak sulit untuk diberi teguran.

Ketika di kelas 2, sikap ketika beribadah tidak duduk seperti biasa kebaktian, tetapi hanya tiduran dan murid tersebut suka memeluk beberapa guru yang dia lihat. Sering- keluar kelas, tiba – tiba masuk ke kantor. Itulah sekilas kisah anak tersebut. Pada akhirnya ketika saya diberi tanggung jawab untuk menjadi wali kelas ada anak tersebut, selama liburan saya share dengan Ibu saya dan selalu  mendoakan supaya anak tersebut bisa belajar bersama saya.

Tepat tahun ajaran baru tahun pelajaran 2016/ 2017, saya dengan sukacita menatap mereka dan saya mengamatinya satu persatu akan jiwa yang sudah Allah berikan kepada saya. Pertama kali siswa tersebut ada di hadapan saya, dengan berjalannya waktu, siswa tersebut, ketika saya perhatikan sering tidak fokus, dan suka tertawa sendiri, sering memeluk-meluk saya, serta memiliki emosional yang tinggi, jika dia terlepas dari penglihatan saya , dia bisa membuka pintu kelas lain dan menendang pintu dengan sekuat tenaga dia, jika belajar  anak tersebut kurang taat, butuh tenaga dan pikiran, untuk mendidik anak tersebut. Memang cukup mengganggu konsentrasi belajar satu kelas, suka lari-lari di dalam kelas.

Sekolah Kristen: Malaikat Kecil Pembawa Harapan

Bagi saya sangat mengganggu siwa-siswa yang lainnya juga diri saya. Anak tersebut jika diajak bicara tidak pernah nyambung. Pada akhirnya, setiap pagi  saya bersama murid selalu menyebut nama anak tersebut di dalam doa, untuk berdoa saja anak tersebut tidak mau dan jika saya mengajak anak membaca Alkitab, dia selalu menutup telinga alias tidak mau mendengar.

Suatu hari saya memanggil orang tuanya ( ayah ) saya sampaikan kondisi anaknya selama bersama saya di dalam kelas, saya minta untuk kerja samanya untuk anak tersebut. Saya katakan untuk anak tersebut dikonseling, dan saya minta hasil konseling, supaya saya tidak salah prediksi apakah anak tersebut autis/ ADHD. Waktu berjalan begitu cepat, setiap akan berdoa anak tersebut selalu saya ajak ke depan saya peluk dan saya tumpangkan tangan ke atas kepalanya setiap pagi dan berdoa bersama siswa satu kelas, dan saat membaca Alkitab di renungan pagi saya bukakan Alkitab untuk dia supaya dia membacanya dan mendengar Firman Tuhan, bahkan saya suka menyuruh dia untuk membacanya satu ayat.

Puji Tuhan lewat doa –doa yang dipanjatkan setiap pagi, anak tersebut mengalami suatu perubahan, emosinya sudah berkurang, tidak teriak, teriak seperti semula, dan  tidak lagi berbicara sendiri seperti dulu, walaupun perubahan itu belum 100% , saya bersyukur saja kepada Tuhan dan siswa-siswi lainnya pun ikut merasakan dan melihatnya dengan nyata bahwa Tuhan turut bekerja dalam segala hal.

Ketika saya menghadapi siswa seperti tersebut,  saya mendapatkan kekuatan lewat anak-anakku di kelas yang selalu kompak untuk memperhatikan dan peduli terhadap dia. Jika anak-anak saya di kelas selesai mengerjakan sesuatu selalu bertanya ,’ Ibu, bolehkah saya membantu yang lain? Jika ada teman yang belum selesai atau tidak mengerti. Sampai suatu hari selesai UAS, ketika saya sedang di kantor dan saya kembali ke kelas masih ada 2 anak laki-laki dan 1 anak perempuan sedang berkelompok berdoa. Mereka berdoa syafaat yang dipimpin oleh seorang anak yang baik dan dewasa.

Pokok doa mereka bagi tiga, seorang anak perempuan mendoakan keadaan sekolah dan lingkungan, anak pria yang lebih dewasa rohani nya dan terlihat humble dia mendoakan murid saya yang sangat special, dan seorang anak yang lambat menulis, serta supaya saya sabar dan tidak memarahi dia ketika menghadapi merek. Anak pria yang kecil mendoakan Presiden JokoWi dan Bapak ahok serta keamanan. Sebelum memulai mereka menyanyikan lagu Pertolonganmu begitu ajaib, dan lagu FirmanMu plita bagi kakiku…. Dan saya terharu, lewat anak – anak tersebut mereka bertiga yang bersyafaat saya semakin dikuatkan dan saya memiliki pengharapan untuk tahun depan ( dari sekian banyak anak- anak yang sulit , masih ada anak-anak yang memberi penghiburan untuk saya, saya merenung kalimat tersebut yang diucapkan oleh teman paralel saya di kelas 3 ).

Mereka – mereka yang Allah percayakan ada yang saya katakan pada mereka , kamu akan menjadi pendeta besar nanti, ada yang jadi pengusaha , dan anak yang spesial buat saya saya dan ibu saya mendoakan supaya anak ini dijamah Tuhan , besar nanti biar dia menjadi pelayan Tuhan.  Saya terlalu yakin suatu hari anak – anak saya akan terjadi sesuai dengan iman yang saya katakan atas hidup mereka ( ada yang menjadi pendeta dan pengusaha dll ), Walaupun perubahan mereka belum terlihat untuk masa depan mereka.