Sebuah Proses

Suatu kesempatan yang indah bagi saya untuk bisa dipercayakan kembali mengajar siswa kelas 1 SD di tahun ajaran 2016/2017 ini. Siswa-siswa baru yang masuk ke kelas 1 SD di awal tahun pelajaran ini, beberapa di antara mereka ada yang belum lancar membaca, hanya bisa mengeja, membaca tersendat-sendat dan tidak lancar. Tepatnya ada empat orang siswa yang membutuhkan tambahan pelajaran membaca setelah selesai jam belajar di sekolah. Salah satu di antara mereka adalah seorang anak laki-laki yang cukup menarik perhatian saya.

Saat pertama kali anak ini masuk ke kelas 1 SD, ia terlihat pemalu, takut, dan suaranya kecil ketika diajak berbicara. Saya mendapatkan informasi kalau anak ini agak sedikit pemalu, sedikit ragu-ragu, kurang percaya diri, dan kurang mempunyai banyak teman ketika di TK. Hal ini juga terjadi ketika ia belajar di kelas 1 SD. Saya berpikir oh mungkin hal ini dikarenakan ia tidak pandai membaca sehingga ia merasa kurang percaya diri.
Dua hari dalam satu minggu, ia dan tiga anak lainnya mendapatkan tambahan pelajaran membaca setelah pulang sekolah. Saat belajar tambahan membaca, setelah beberapa kali pertemuan dengan menggunakan bahan/buku yang telah saya siapkan, saya mulai mengijinkan anak-anak untuk membawa buku cerita sendiri dari rumahnya dengan tujuan agar minat membaca mereka timbul ketika mereka melihat dan membaca buku cerita yang masih ada banyak gambar-gambar di dalamnya dan hanya ada sedikit tulisan di bawah atau di atas gambar-gambar tersebut.

Buku yang dibawa anak laki-laki itu merupakan buku kesukaannya, katanya “mama membelikanku beberapa buku cerita dengan tokoh ini, di rumah aku juga membacanya bersama mama”. Saya senang sekali mendengarnya karena mamanya ikut mendukung dan membantu ia untuk bisa belajar membaca juga di rumah. In loco parentis, guru dan orang tua bersama mendidik anak-anak, inilah yang terjadi dalam hubungan saya dengan orang tuanya.

Sekolah Kristen: Percakapan Murid Dengan Gurunya
Setiap kali ia selesai membaca satu halaman buku tersebut, maka saya akan bertanya kepadanya tentang isi cerita yang ia baca dan ia dapat menjawab pertanyaan saya dengan baik. Apabila telah selesai satu buku dibacanya, maka ia akan membawakan satu buku yang lainnya dengan tokoh yang sama yaitu Franklin. Perlahan-lahan setelah satu setengah bulan ia dibimbing dalam kelas tambahan membaca, ia mulai dapat lebih lancar membaca tanpa tersendat-sendat, meskipun pengucapannya agak sedikit lambat. Di dalam kelas saya dan teman-temannya juga memberikan dukungan dan mendoakannya. Satu hari istimewa baginya adalah ketika tiba gilirannya menjadi pemimpin barisan sebelum masuk ke kelas dan sekaligus menjadi ketua kelas pada hari tersebut.
Di kelas satu ini, saya membiasakan setiap siswa untuk mendapatkan giliran setiap harinya secara bergantian untuk menjadi ketua kelas sehingga setiap anak di kelas baik yang mempunyai keberanian ataupun kurang berani tetap mempunyai kesempatan untuk mencoba menjadi ketua kelas. Tujuan saya melakukan hal ini adalah agar setiap anak di kelas mempunyai kesempatan untuk memimpin dan dipimpin oleh temannya sehingga mereka merasakan ketika saya menjadi pemimpin bagaimana rasanya memimpin orang lain dan ketika saya dipimpin saya juga mau menurut kepada pemimpin.
Ketika akan tiba giliran anak laki-laki itu, maka datanglah sebuah tulisan di agenda yang ditulis oleh mamanya, “Ibu, tolong bantu anak saya supaya ia berani menjadi pemimpin barisan”. Lebih lanjut mamanya juga bertemu saya dan kami mengobrol tentang masalah ini. Mamanya mengatakan bahwa di rumah ia (mamanya) sudah melatih anak ini untuk berani menjadi pemimpin barisan dengan cara mama, papa, dan adiknya berpura-pura berbaris seperti anak-anak di sekolah dan ia menjadi pemimpin barisannya. Saya cukup tersenyum mendengarkan hal ini dan senang dengan dukungan yang diberikan oleh mama dan keluarganya. Mungkin ini merupakan persoalan yang mudah bagi kita atau anak-anak lain yang memang sudah punya rasa percaya diri yang tinggi, tetapi tidak dengan dirinya.
Sekolah Kristen: Anak Laki-Laki Menjadi Pemimpinan Barisan

Hari yang ditunggu-tunggu tibalah, saatnya ia menjadi pemimpin barisan. Pada hari itu ia dapat melakukannya dengan baik, oh senangnya hati saya. Dengan suara yang mungkin tidak terlalu keras, namun cukup terdengar, ia memimpin teman-temannya untuk berbaris dan menyiapkan teman-teman di kelasnya untuk memberi salam ketika pembelajaran di kelas dimulai. Kelihatan ada senyum di wajahnya, mungkin senyum ini berarti dalam dirinya oh ternyata aku bisa juga menjadi pemimpin dan tidak perlu takut lagi.

Sudah satu semester ia belajar di kelas 1 SD. Sekarang ia kelihatan tampak ceria, walaupun masih sedikit malu-malu, ia berani mengungkapkan pendapatnya di kelas ataupun bertanya ketika ada hal yang tidak dimengertinya. Ketika saat membaca nyaring bersama dengan teman-teman di kelas, suaranya dapat terdengar oleh saya dan dengan lancar ia dapat membaca setiap kalimat yang terdapat di buku pelajaran. Bukan hanya berani membaca nyaring, ia juga kelihatan mulai dapat berteman dengan teman-teman yang ada di kelas 1 SD.
Pada saat jam istirahat pertama, ia berusaha menghabiskan makanannya, kemudian jika masih ada kesempatan (bel masuk ke kelas belum berbunyi), maka ia akan bermain di luar kelas bersama dengan teman-temannya. Saya memerhatikan anak ini dan melihat tampaknya ia sudah mulai dapat bersosialisasi dengan baik bersama teman-temannya. Nilai-nilai yang diperolehnya dalam satu semester ini juga cukup baik, tidak ada nilai-nilai yang di bawah KKM.

Sebuah proses yang dihadapinya dalam satu semester ini dapat dilaluinya dengan baik, saya percaya ini semua dapat terjadi karena berkat pertolongan dari Tuhan Yesus. Sebuah proses yang dilaluinya masih akan berkelanjutan dan tidak hanya berhenti sampai disini. Sebuah proses yang panjang masih akan dilewatinya ke depan sampai ia menjadi seorang dewasa yang mandiri, percaya diri, mempunyai berbagai-bagai keterampilan, dan memuliakan Tuhan.

Sebuah proses dimana kita sebagai seorang guru terlibat di dalamnya. Sebuah proses yang terjadi pada setiap anak-anak didik yang telah Tuhan percayakan kepada kita. Maukah kita menolong anak-anak didik kita melalui proses itu? Maukah kita melalui setiap proses itu bersama mereka dengan pimpinan dari Tuhan Yesus? Sebuah proses yang tidak akan berhenti hanya sampai disini.