Selalu Ada Harapan….karena Pertolongan Tuhan

Tahun pelajaran 2014/2015 adalah tahun pelayanan yang cukup mengesankan buat saya sebagai guru. Tahun pelajaran ini saya bertugas mengajar kelas V. Seperti biasanya di setiap kelas pasti ada anak yang unik  sikapnya. Pada kelas VA ini, sudah ada pesan-pesan dari beberapa rekan guru sebelumnya yang sudah mengajar angkatan ini mengenai seorang siswa laki-laki yang berperawakan besar.

Ia sangat mudah marah, mengucapkan kata-kata yang kurang baik, bahkan memukul. Bila ia marah atau tidak suka pada seseorang, baik itu temannya, atau guru, ia dapat mengucapkan kata-kata yang kasar. Sehingga saya pun sudah menyiapkan diri untuk lebih tegas dan berusaha untuk mempelajari sikapnya.

Sekolah Kristen: Anak Laki-Laki Berteriak Kepada Wanita Dewasa

Pernah suatu saat  ia mengucapkan kata-kata yang kasar pada rekan saya yang mengajar matematika,”Dasar guru masih baru saja, belagu.” Semua instruksi guru itu pada hari tersebut tidak dilakukannya.  Pada waktu itu, sebagai wali kelasnya, saya memanggilnya, mengajaknya berbicara. Ketika saya tanyakan benarkah ia mengucapkan kalimat yang tidak sopan pada guru yang mengajarnya. Ia tidak mengelak, sikapnya masih penuh kekesalan. 

Bahkan ia tidak menyesali sikapnya dengan mengatakan “Biarin aja!”  Nada saya dari mulai marah, saya mulai bernada lembut menasihatinya dan mengajaknya berdoa. Selesai berbicara,saya mengingatkannya untuk meminta maaf pada guru tersebut.

Hari-hari berikutnya selalu ada permasalahan, terutama pada jam-jam istirahat atau pada jam-jam pelajaran tertentu. Ia mengatai teman atau memukul. Namun tidak semua permasalahan yang timbul itu diawali kesalahan anak ini. Kalau ia memukul pun selalu dibalas oleh temannya. Semua tindakan anak di dalam kelas yang melanggar aturan selalu diberi sanksi oleh kami sebagai guru. Tidak ada satu anak pun yang diistimewakan. Termasuk anak ini. Secara khusus saya selalu mengajaknya berbicara dan berbicara tegas kepadanya. Beberapa kali saya ajak berdoa, ia tidak mau, ia mengatakan”Saya Budha!” 

Namun oleh karena seringnya permasalahan di dalam kelas yang saya ajar ini timbul, dan hampir di setiap permasalahan anak ini selalu terlibat, maka beberapa orang tua murid saya mendatangi kepala sekolah dan meminta agar anak ini dikeluarkan dari sekolah. Pada saat mengambil raport pun ada satu orang tua murid yang anaknya bermasalah dengan anak tersebut membentak saya dan mengatakan, “Ibu lebih membela anak itu ya!” Ia mengatakan anaknya tidak bersalah, tetapi anak tersebutlah yang bersalah. Saya mengatakan bahwa sayalah yang melihat kejadiannya dan jelas diawali dengan kesalahan anaknya. 

Saya merasa sedih dan malu pada saat itu, karena  orang tua murid itu marah di hadapan beberapa orang tua murid yang mengantre untuk mengambil raport.  Saya juga merasa sedih dengan keinginan beberapa orang tua murid yang menginginkan anak bermasalah ini keluar dari IPEKA. Orang tua anak yang bermasalah ini selalu datang mengambil raport pada siang hari, karena mungkin ia juga sudah merasa ada beberapa orang tua murid tidak senang dengan sikap anaknya. Mama dari anak yang bermasalah ini beberapa kali dalam pertemuan kami, menangis dan mengakui di rumah suka memukul anak ini, karena anak ini sering tidak taat dan melawan. Saya mengingatkan orang tua ini untuk tidak memukulnya di rumah, karena anaknya jadi suka memukul di sekolah.

Saya bersyukur, mama dari anak ini mau diajak bekerja sama. Ia meyakini anaknya dapat berubah dengan pendidikan Kristen di IPEKA. Hal itulah yang membuatnya bertahan di IPEKA meskipun dengan jujur ia mengaku, bahwa banyak orang tua murid tidak suka dengan anaknya. Sungguh hal ini juga menyemangati saya, ia menantikan perubahan anaknya dalam proses pendidikan Kristen di IPEKA. Saya jadi teringat kisah Naaman Panglima Raja Aram yang  menderita sakit kusta, ia beriman dan berharap bahwa Allah orang Israel dapat menyembuhkannya. Iman dan harapan saya makin yakin anak ini dapat berubah.

Memasuki semester II anak ini tetap berulah, kurang dapat mengendalikan diri dan kadang merugikan temannya. Pada semester ini, ketika saya melakukan PI pribadi, ia mengatakan ia percaya Yesus. Hati saya sungguh senang, karena pada semester I ketika saya lakukan PI pribadi, ia menolak dan mengatakan “Saya Budha!”  Saya terus mengingatkan agar ia dapat mengendalikan diri. Pada jam-jam istirahat, saya suka mengajaknya berbicara sekedar menanyakan makanannya hari itu. 

Pernah saya mengelus kepalanya, pada saat menulis narasi mengenai pengalamannya hari itu sebagai hukuman karena ia mengucapkan kata-kata yang kurang baik. Ia mengaduh, ketika tangan saya menyentuh bagian kepalanya yang benjol. Ketika saya menanyakan mengenai kepalanya, ia mengatakan dengan suara pelan dan tersenyum “Dipukul mama, Bu, pakai botol minum, habis aku nggak mau pulang diajak supir, padahal mama menunggu di mobil.” Saya menasihatinya agar lebih taat lagi.

Beberapa kali di dalam pelajaran, anak ini tidak mau mengerjakan tugasnya, sementara teman lain sedang mengerjakan. Dengan tegas saya mengingatkan agar ia mengerjakannya, ia jawab dengan marah, “Nggak mau!” saya mengambil kamera, lalu saya katakan kalau ia tetap tak mau bekerja, saya akan mengirimkan fotonya pada mamanya. Ia pun segera bekerja dengan penuh kekesalan. Karena rupanya ia takut pada mamanya yang suka memukulnya. Saya pun terus mengingatkan mamanya agar ia tidak memukulnya, karena anak tersebut sakit hati pada mamanya.

Setiap hari di dalam renungan pagi, sering saya memanggil namanya untuk meraih perhatiannya terhadap Firman Tuhan hari itu. Karena saya yakin bahwa Firman Tuhan yang ditaburkan tidak akan pernah kembali dengan sia-sia. Firman Tuhan dapat mengubahkan anak itu.

Sekolah Kristen: Wanita Dewasa Membimbing Seorang Anak Laki-Laki

Ya… itu yang menjadi harapan saya dan menjadi kekuatan yang menyemangati saya dalam menghadapi anak tersebut.  Hal yang menghibur saya pada waktu itu mengenai kerohaniannya, ia mau didoakan, ia mau percaya Yesus. Ia marah pada saat saya sempat membatalkannya untuk turut serta bersaksi memuji Tuhan, karena ia tidak menaati aturan baris yang saya buat. Ia datang dan mengatakan ia mau ikut memuji Tuhan. Akhirnya saya pun mengikutsertakannya dalam kesaksian tersebut.

Pada akhir kelas V, belum ada perubahan yang terlalu besar dalam sikapnya,namun dalam sepanjang kurang lebih 22 tahun, saya mengajar, nama anak inilah yang paling sering saya doakan. Namun saya yakin bahwa selalu masih ada harapan, tidak di kelas V, mungkin di kelas VI. Di kelas VI anak ini ditangani dengan baik oleh rekan saya. Masih terus bermasalah dalam pengendalian ucapan dan sikap, bahkan sampai diskors akibat memukul temannya.

Namun hal yang membuat saya terharu pada saat kelas VI, pada acara ibadah siswa, ia pernah bersaksi dan menceritakan sikapnya yang tidak baik. Ia juga menceritakan pengalamannya mengikuti acara komsel anak, dimana ia belajar Firman Tuhan. Hal itu dilakukan dengan  bantuan rekan saya di kelas VI. Luar biasa, cara Tuhan. Sekarang anak ini sudah di kelas VIII. Ketika ia kelas VII, kami yakin, bila ia masih dengan sikap sukar mengendalikan diri, dan tidak mau mengindahkan guru, pasti tidak naik kelas. Namun ternyata masalah yang ditimbulkannya makin berkurang. Ia pun dapat naik kelas VIII.  Saya yakin sudah ada perubahan pada dirinya.

Bila sesekali bertemu, saya suka memanggil namanya, ia juga menyapa saya dengan penuh senyuman. Sekali lagi saya bersyukur, karena anak itu masih bersekolah di IPEKA. Itu tandanya, orang tuanya masih berharap pada pendidikan Kristen di IPEKA dapat membentuk serta mengubahkan anak ini. Ini juga berarti, guru IPEKA masih diberi kesempatan  untuk menjadi alat Tuhan bagi anak ini. Yah, masih selalu ada harapan, perubahan pada setiap anak didik yang Tuhan percayakan, bagaimana pun kondisinya. Karena pertolongan Tuhan bagaikan gelombang laut yang tidak ada habisnya. Caranya di luar pikiran kita. Jadi,  ada anak bermasalah? Mari, rangkul mereka, karena selalu ada harapan.