Penyimpangan Identitas Seksual

Sekolah Kristen: Penyimpangan Identitas Seksual

Jika kita mengamati perkembangan media, khususnya pertelevisian di tanah air saat ini, kita akan menemukan bahwa semakin banyak siaran yang menampilkan peran waria dalam program acaranya.

Perfilman Hollywood juga kurang lebih 2 – 3 tahun yang lalu pun membuat sebuah drama sitkom berseri mengenai kehidupan berkeluarga yang diberi judul Modern Family. Film tersebut mengetengahkan kehidupan satu keluarga besar yang terdiri dari tiga keluarga inti, yang salah satu keluarganya intinya merupakan pasangan homoseksual.

Fenomena di atas menggambarkan bahwa terdapat suatu usaha di dunia saat ini untuk membuat kabur (abu-abu) garis batas atau nilai-nilai yang membedakan antara perilaku seksual yang normal dan tidak normal.

Kriteria sosial, budaya dan keyakinan-keyakinan baru tampak sedang berusaha dibentuk mengenai perilaku seksual yang sehat ataukah tidak sehat, perilaku seksual yang benar ataukah tidak benar.

Sikap terhadap waria dan homoseksual yang dulu kurang positif tampak lambat laun berusaha dinetralkan menjadi sesuatu yang dapat diterima, bahkan mungkin dibenarkan. Contoh: dalam dunia psikiatri dan psikologi, dulu homoseksualitas dianggap sebagai suatu bentuk penyakit mental, namun pada 1973, Asosiasi Psikiatri Amerika memutuskan untuk menghilangkan homoseksualitas dari daftar gangguan mental (Nevid, Rathus & Greene, 2005).

Abnormalitas suatu perilaku seksual juga kerap diukur menggunakan kriteria-kriteria kemanusiaan. Ada anggapan yang menyatakan bahwa suatu perilaku seksual hanya dianggap abnormal jika bersifat self-defeating, menyimpang dari norma sosial, menyakiti orang lain, menyebabkan personal distress dan mempengaruhi kapasitas seseorang untuk berfungsi secara normal (Nevid, Rathus & Greene,2005). Hal itu berarti ketika seorang memiliki perilaku atau gangguan seksual yang menyimpang, seperti homoseksual tapi ia mengklaim bahwa secara pribadi tidak terganggu, tidak menyakiti orang lain, dan tetap dapat bekerja dan melakukan fungsi sosialnya dengan baik, maka perilaku homoseksualnya bukanlah suatu hal yang menyimpang.

Pandangan yang menempatkan nilai-nilai sosial dan budaya serta penilaian pribadi manusia sebagai dasar penilaian perilaku normal dan abnormal, tentu tidak sesuai dengan kebenaran firman Tuhan.

Kita menyakini bahwa segala bentuk perilaku yang tidak sesuai dengan desain dan sasaran yang ditetapkan oleh Allah adalah dosa dan disebut sebagai perilaku yang menyimpang.

Perilaku seksual yang benar adalah perilaku seksual yang sesuai dengan desain ciptaan Allah. Sebaliknya, perilaku seksual yang tidak sesuai dengan desain Allah pastilah merupakan perilaku seksual yang menyimpang.

Gangguan atau penyimpangan dalam jati diri seksual dan perilaku seksual dapat terjadi karena pada dasarnya manusia merupakan makhluk yang memiliki natur dosa. Dengan natur dosa yang dimiliki, membuat manusia lebih mudah berkembang ke arah natur seksualitas yang kurang sehat dibandingkan ke arah yang sehat.

Setiap manusia juga dilahirkan dan dibesarkan oleh orangtua yang memiliki natur dosa dan dalam lingkungan sosial yang juga telah dicemari oleh dosa sehingga kerap tidak mampu melakukan perannya secara optimal untuk dapat membentuk seksualitas yang sehat pada diri anak-anaknya.

Orangtua dan lingkungan sosial kerap tidak memfasilitasi ataupun mendukung terbentuknya tahap-tahap perkembangan integritas seksual pada diri anak.

Faktor yang berperan penting dalam proses pembentukan integritas seksual adalah identifikasi. Integritas seksual baru dapat terbentuk ketika anak berhasil melakukan identifikasi yang sehat dengan orang dewasa yang berjenis kelamin sama dengan dirinya. Orang dewasa yang menjadi sumber identifikasi anak umumnya adalah orangtuanya sendiri atau figur lain yang signifikan untuk anak atau figur yang menjadi pengasuhnya sehari-hari (yang memiliki frekuensi dan intensitas interaksi cukup banyak dengan anak).

Proses identifikasi yang berjalan dengan baik membuat seseorang dapat membentuk integritas seksualnya. Ia dapat menerima identitas seksualnya sesuai dengan identitas biologisnya. Ia akan merasa bangga menjadi seorang perempuan atau seorang laki-laki sesuai dengan kondisi biologisnya. Sebaliknya, bila proses identifikasi ini tidak berjalan dengan baik, tak akan terbentuk integritas seksual dalam diri seseorang, bahkan dapat menimbulkan berbagai macam bentuk gangguan dan penyimpangan psikologis, baik berbentuk gangguan atau penyimpangan identitas gender maupun gangguan atau penyimpangan orientasi seksual.

Gangguan atau penyimpangan identitas gender terjadi saat seorang individu mengalami konflik dalam dirinya antara anatomi biologisnya dengan identitas gendernya. Konflik ini umumnya berakhir dengan perilaku menolak identitas gender yang sesuai dengan identitas biologisnya dan adanya dorongan ataupun keinginan yang kuat untuk menjadi seorang berjenis kelamin berlawanan. Contoh: seorang yang dilahirkan sebagai laki-laki, memiliki anatomi biologis laki-laki akan menolak dirinya sebagai laki-laki. Ia akan menyatakan bahwa dirinya seorang perempuan yang terperangkap dalam tubuh laki-laki. Demikian pula sebaliknya. Seorang yang dilahirkan sebagai perempuan, memiliki anatomi biologis perempuan akan menolak dirinya sebagai perempuan. Ia akan menyatakan bahwa dirinya seorang laki-laki yang terperangkap dalam tubuh perempuan.

Adanya gangguan identitas gender itu yang membuat seorang laki-laki yang merasa sebagai wanita akan berjalan, berbicara, berpakaian, dan lain-lain seperti wanita agar sesuai dengan keyakinan dirinya sebagai wanita. Inilah yang dikenal dalam masyarakat sebagai kaum waria.

Demikian pula halnya dengan seorang wanita yang merasa sebagai laki-laki akan berjalan, berbicara, berpakaian seperti laki-laki agar sesuai dengan keyakinan dirinya sebagai laki-laki. Untuk wanita yang seperti ini tidak terdapat istilah yang jelas dalam masyarakat. Dalam masyarakat lebih dikenal istilah tomboi (wanita dengan pembawaan kelaki-lakian). Namun, wanita yang tomboi berbeda dengan wanita yang mengalami gangguan identitas gender.

Wanita yang tomboi umumnya tidak menolak jenis kelaminnya sebagai perempuan. Dia tetap memiliki keyakinan diri sebagai perempuan, tetapi dia memiliki pembawaan diri yang mirip laki-laki, seperti gaya berpakaian, cara berjalan dan lain-lain yang kurang feminin, memiliki model rambut laki-laki, dan pilihan-pilihan kegiatan yang sifatnya lebih maskulin.

Pria maupun wanita yang mengalami gangguan identitas gender pada akhirnya mungkin dapat melakukan proses pergantian alat kelamin agar sesuai dengan jati diri yang diyakininya. Seorang laki-laki yang menyakini diri sebagai wanita mungkin melakukan operasi untuk mengubah wajah dan mengganti beberapa bagian tubuhnya. Demikian sebaliknya. Karena itu, gangguan identitas gender kerap disebut dengan gangguan transeksual.

Selain gangguan identitas gender, proses identifikasi yang berjalan kurang baik dapat menyebabkan seseorang mengalami gangguan orientasi seksual. Gangguan orientasi seksual adalah adanya gangguan atau penyimpangan dalam minat atau hasrat seksual.

Seseorang yang memiliki minat atau hasrat seksual terhadap anggota gender mereka sendiri disebut dengan homoseksual. Apabila ia seorang laki-laki, berarti ia memiliki minat atau hasrat seksual terhadap laki-laki dan disebut dengan gay. Sedangkan, apabila ia seorang wanita, berarti ia memiliki minat atau hasrat seksual terhadap wanita dan disebut dengan lesbian.

Gangguan orientasi seksual ini harus dibedakan dengan gangguan identitas gender. Seorang gay atau lesbian hanya memiliki minat atau hasrat seksual terhadap orang yang berjenis kelamin sama dengan mereka, tetapi identitas gender mereka konsisten dengan anatomi biologis mereka.

Seorang gay dan lesbian tetap menerima identitas dirinya sebagai laki-laki atau perempuan. Hanya, mereka memiliki ketertarikan terhadap orang berjenis kelamin yang sama dengan dirinya.

Beberapa hal yang dapat menjadi penyebab terganggunya proses identifikasi dalam perkembangan anak, yaitu:

  • Figur sumber identifikasi yang tidak positif atau bahkan menyakiti anak. Proses identifikasi akan terganggu ketika dalam masa-masa perkembangannya, anak bertemu dan berinteraksi dengan figur-figur otoritas berjenis kelamin sama yang kurang positif atau bahkan menyakiti anak sehingga ia menolak melakukan identifikasi terhadap figur otoritas tersebut, bahkan melakukan pembalikan dari identitas dan peran gender yang diharapkan. Contoh: seorang anak laki-laki yang dibesarkan oleh ayah yang menyakitinya akan membuat anak membenci figur laki-laki sehingga menolak identifikasi dengan ayahnya. Anak ini mungkin akan tumbuh menjadi seorang laki-laki yang menjadi wanita (waria) atau tetap sebagai laki-laki, tetapi menghayati diri sebagai wanita sehingga ia lebih tertarik pada laki-laki (homoseksual).
  • Keterbatasan kesempatan berinteraksi dengan orang dewasa yang berjenis kelamin sama. Ada kalanya anak dibesarkan dalam situasi keluarga yang didominasi oleh orang-orang yang berjenis kelamin berbeda dengan dirinya. Contoh: seorang anak laki-laki yang kedua orangtua sudah bercerai sejak ia kecil dan ia dibesarkan bersama ibu, kakak perempuan dan neneknya, maka kemungkinannya besar ia lebih mudah menginternalisasi nilai-nilai atau perilaku sebagai wanita dibandingkan pria. Dari segi teori belajar, ketidakhadiran ayah atau ketiadaan tokoh panutan laki-laki yang kuat membuat anak tidak memiliki sumber identifikasi yang kuat. Dalam kasus ini, anak mungkin tetap memiliki jati diri sebagai laki-laki, tetapi memiliki sisi feminin yang lebih kuat. Cara berjalan, berkata-kata, dan lain-lain lebih tampak seperti wanita dibandingkan laki-laki.
  • Proses belajar sosial. Seorang dapat menolak identitas gendernya apabila ia dibesarkan oleh orangtua yang menginginkan anak dari gender yang berbeda dan secara kuat mendorong cara berpakaian dan pola bermain dari gender yang berlawanan. Melalui proses belajar ini, anak mengembangkan suatu sikap membenci identitas gender biologisnya dan belajar berperilaku sesuai dengan identitas gender yang diharapkan lingkungan untuk menghindari penolakan dari lingkungan sosial.

 

Nah, untuk memahami apa itu identitas biologis seseorang, orangtua dapat membacanya pada website ini, yaitu artikel yang berjudul Identitas Biologis, Identitas Gender.

Monica, M.Psi., Psi.
IPEKA Counseling Center

Sumber referensi:
– Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., & Greene, Beverly. (2003). Psikologi Abnormal (edisi kelima). Alih Bahasa: Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta: Erlangga.
– Stanton, L., & Jones, Brenna B. (2004). How and When to Tell Your Kids about Sex. Alih Bahasa: Fenny Veronica dan Ina Elia. Surabaya: Momentum.
– Wijaya. Andik. (2010). Equipping Parents to Fight for Sexual Holiness (Memperlengkapi Orangtua untuk Berperang bagi Kekudusan Seksual). Kenza Publishing House.
– Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th ed. Washington: American Psychiatric Association.