A True Story Of a Teacher

Tahun 2010 mungkin menjadi salah satu tahun terbaik dalam kehidupan saya. Di tahun itu saya diterima bekerja sebagai guru Leadership di SMAK IPEKA Puri Indah (biasa disebut SKIPI). Waktu itu usia saya masih 23 tahun jadi dapat ditebak bahwa saya sangat minim pengalaman sebagai guru. Modal saya hanya pengalaman menjadi guru les yang satu kelasnya berisi lima anak SMP kelas 7, tetapi sekarang saya harus menghadapi anak-anak SMA.

Latar belakang pendidikan saya adalah psikologi, oleh karena itu ketika masuk IPEKA saya apply sebagai staf psikologi di ICC. Akan tetapi hasil tes mengatakan saya tidak cocok dan lebih baik menjadi guru. Singkat cerita jadilah saya guru Leadership yang sebenarnya saya juga tidak tahu mau mengajar apa. Bahkan saya baru dapat buku pegangan untuk mengajar 1 jam sebelum saya masuk ke kelas pertama kali. Saya ingat betapa saya nervous untuk masuk kelas pertama kali dan mulai mengajar. Ketika melihat jam di kelas, saya begitu kaget setelah sekian lama berbicara ternyata saya baru 5 menit mengajar. Sisa 30 menit bisa dibayangkan saya sudah mati gaya. Akan tetapi saya bersyukur bertemu dengan rekan-rekan di SKIPI yang memberi support dan rekan-rekan senior memperlakukan kami yang masih muda dengan sangat baik. Ketika itu kami juga memiliki kepala sekolah seperti Bu Ester Setiawati dan Pak Prakoso yang berani mempercayakan banyak hal kepada kami guru-guru muda.

Di SKIPI ada sebuah papan slogan (dibuat oleh Pak Suyanto Halim) yang digantung di lantai 4 gedung SMA. Tulisan di papan itu adalah SKIPI The Place You’ll Never ForgetPertama kali saya melihat papan itu saya sempat bertanya-tanya, “Really?”. Pada akhirnya setelah 4 tahun berada di sana (sekarang saya sudah dimutasi ke ILDC), saya dapat merasakan bahwa apa yang ditulis di papan slogan itu bukan hanya sekedar huruf. Ada begitu banyak hal yang sulit dilupakan di sana, tempat di mana saya dapat bertemu seperti dengan keluarga sendiri 

Salah satu hal yang paling berkesan bagi saya adalah pada saat acara graduation. Pada saat graduation biasanya kami membuat sesi khusus untuk setiap murid membawakan bunga kepada orangtua mereka sebagai tanda ucapan terimakasih. Ketika itulah saya melihat pemandangan yang begitu mengharukan di mana anak-anak ada yang tertawa, menangis bersyukur, bahkan foto-foto dengan orang tua mereka. Di saat itulah saya melihat dari kejauhan seorang siswa saya bernama Matius (nama disamarkan) sedang duduk sendirian dengan wajah tertunduk. 

Sekolah Kristen Terbaik: Pasangan Bertolak Belakang

Matius adalah siswa yang sangat baik. Saya mengenalnya sejak dari kelas 10. Ketika itu ia sempat tidak naik kelas dan saya sempat mendampinginya untuk tidak menyerah. Ketika itu saya membuatkan sebuah kartu dengan tulisan “Let me tell you something you already know. The world ain’t all sunshine and rainbows. It’s a very mean and nasty place and I don’t care how tough you are it will beat you to your knees and keep you there permanently if you let it. You, me, or nobody is gonna hit as hard as life. But it ain’t about how hard you hit. It’s about how hard you can get hit and keep moving forward. How much you can take and keep moving forward. That’s how winning is done!”. 

Sekedar informasi, saya mengambil kutipan itu dari film Rocky Balboa 6. Kami mulai sering chat, mendengarkan dia curhat, dan tentu saling meledek karena ia mendukung klub Chelsea sedangkan saya pendukung Manchester United. Pada kesempatan itulah saya mengetahui ia punya masalah keluarga yang cukup rumit. Orangtuanya sudah berpisah dan ia hidup dengan papanya.

Di hari kelulusan itulah kisah ini terjadi. Sebuah momen yang tidak dapat dihapus dari ingatan saya. Saat saya memutuskan untuk menghampiri dan duduk di sebelahnya sambil menepuk bahunya, saya melihat ia sedang menahan tangis. Saya bertanya kepadanya, “Kenapa kamu tidak menghampiri orangtua kamu?.” 

Ssekolah Kristen: Murid Pria Berkonsultasi dengan Guru Pria

Lalu dia menjawab dengan singkat “Sudah Pak”. Tentu saja insting kekepoan saya langsung bereaksi. Akhirnya Matius menceritakan bahwa ia sangat berharap kedua orangtuanya mau mengesampingkan ego mereka demi menghadiri acara kelulusan anak mereka. Akan tetapi orangtua Matius akhirnya berdebat karena mereka tidak mau bertemu satu sama lain. Papa Matius tidak mau datang kalau mantan istrinya juga datang ke acara graduation, demikian sebaliknya. Orangtua Matius meminta ia untuk memilih siapa yang lebih ia inginkan untuk hadir di acara graduation. Tidak hanya itu, Papa Matius mengatakan jika Matius meminta papanya yang datang, maka ia ingin mengajak kekasihnya. Dan pada akhirnya Papa Matius yang datang sendirian ke acara kelulusan ketika itu.

Saya yakin bagi anak berusia 17-18 tahun untuk mengambil keputusan harus memilih di antara orangtuanya untuk datang di acara kelulusan adalah hal yang sangat menyakitkan. Matius yang harusnya menikmati kebahagiaan di acara kelulusannya harus menahan air mata, bukan air mata kebahagiaan tapi tetesan air mata kesedihan. Setelah ia bercerita, saya menepuk bahunya dan mengatakan bahwa saya tidak dapat memahami sepenuhnya apa yang ia rasakan sebab saya tidak pernah berada di dalam situasi yang ia hadapi. Tapi saya berkata kepada Matius, “Mat, meskipun kamu sulit memahami apa artinya family di rumah kamu, saya ingin kamu tahu bahwa di sekolah ini kamu punya family. Teman-teman dan guru-guru kamu adalah keluarga kamu. Kamu selalu diterima di tempat ini karena kamu adalah keluarga kami. Jadi ketika kamu pergi jauh dan tidak tahu ke mana kamu harus pergi, kamu selalu dapat kembali ke sini bertemu dengan saya dan guru-guru kamu yang lain. Kamu akan selalu memiliki kami.”

 

Sekarang Matius sudah bekerja di Australia. Suatu saat dia pernah chat saya dan mengatakan hal yang tidak pernah saya duga. Dia berkata, “Pak, saya masih simpan kartu dari Bapak waktu saya tidak naik kelas. Sudah lecek-lecek sih, tapi saya akan tetap selalu ingat untuk keep moving forward no matter how hard life hit me.” Saya membalas chat nya dengan “Hahahaha good just keep moving forward.” tapi sebenarnya hati saya terharu ketika mengetahui Matius masih menyimpan kartu itu. 

 

Saya yakin menjadi guru adalah hal yang mulia. Guru seperti apa kita pada akhirnya akan selalu lebih diingat dibanding apa yang kita ajarkan. Jika anda mau membuat perbedaan dalam dunia seseorang, jadilah guru. 

Every child should have a caring adult in their lives. And that’s not always a biological parent or family member. It may be a friend or neighbor. Often times it is a teacher.

Eric Suryadi

Kantor Pusat IPEKA