Identitas Biologis, Identitas Gender

Sekolah Kristen: Identitas biologis

Laki-laki atau perempuan? begitu pertanyaan yang sering diajukan kepada ibu yang sedang mengandung. Juga ketika anak lahir, maka ia pertama kali diperkenalkan kepada orangtuanya dengan kata-kata, Selamat ya, Bu, bayinya laki-laki/perempuan.

Karena itu, kita dapat mengatakan bahwa jati diri (identitas) pertama yang melekat pada dan dibawa oleh seorang manusia ketika ia lahir adalah jati diri berdasarkan jenis kelaminnya, laki-laki atau perempuan.

Alkitab secara jelas menegaskan pemberian identitas ini sejak manusia pertama diciptakan. Maka Allah menciptakan manusia itu menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka (Kejadian 1:27).

Dengan demikian, Allah menciptakan manusia hanya memiliki dua kemungkinan jenis kelamin, laki-laki atau perempuan. Jika seseorang lahir bukan sebagai laki-laki, ia pasti lahir sebagai perempuan. Sebaliknya, jika seseorang lahir bukan sebagai perempuan, ia pasti seorang laki-laki.

Jati diri yang dibawa sejak lahir inilah yang sesuai dengan kondisi fisik yang dimiliki disebut dengan identitas (jati diri) biologis.

Sejak orangtua mengetahui jenis kelamin anak yang dikandungnya, terlebih lagi jika anak itu telah lahir, maka orangtua pada umumnya akan menyiapkan berbagai perlengkapan yang diperlukan oleh sang anak.

Berbagai perlengkapan yang disiapkan umumnya akan disesuaikan dengan jenis kelamin anak tersebut. Bila anak yang dikandung laki-laki, maka segala perlengkapan yang perlu umumnya akan bernuansa warna biru. Sedangkan, bila anak yang dikandung perempuan, maka segala perlengkapan yang disiapkan akan bernuasa warna merah muda (pink). Begitu pulalah dengan pilihan mainan, hiasan kamar, perlengkapan tidur, perlengkapan makan, dan lainnya akan dipersiapkan dengan gambar-gambar yang dianggap bernuasa laki-laki atau perempuan.

Kondisi di atas merupakan gambaran bagaimana orangtua berusaha membentuk atau menanamkan jati diri sebagai laki-laki atau perempuan menurut aturan-aturan, norma sosial yang berlaku kepada anaknya tersebut.

Seperti yang kita ketahui, dalam masyarakat terdapat sistem sosial dan budaya mengenai perilaku-perilaku yang diharapkan, diharuskan atau diinginkan dari seseorang berdasarkan jenis kelaminnya. Contoh: anak laki-laki harusnya main mobil-mobilan, anak perempuan bermain boneka atau masak-masakan. Pakaian atau benda berwarna merah muda hanya untuk wanita, dan contoh lainnya. Inilah yang disebut dengan identitas gender.

Identitas gender adalah adanya keyakinan diri (secara fisik, sosial dan budaya) sebagai laki-laki atau perempuan.

Identitas gender yang sehat adalah identitas gender yang konsisten dengan identitas biologisnya. Identitas gender yang sehat membuat seseorang dapat menyakini dirinya sebagai laki-laki atau perempuan sesuai pembawaan fisiknya dan dapat berperan atau bertingkah laku sebagaimana seharusnya sebagai laki-laki atau perempuan.

Nah, agar seorang anak dapat memiliki identitas gender yang sehat, maka ia perlu diajari atau ditanamkan mengenai nilai-nilai, norma-norma, tuntutan, batasan, dan lain-lain mengenai jenis kelaminnya serta dilatih untuk dapat berperan atau bertingkah laku sesuai dengan jenis kelaminnya tersebut.

Pola pengasuhan dan lingkungan sosial di mana ia dibesarkan pun memiliki pengaruh yang besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan seksualitas yang sehat tersebut.

Dr. Andik Wijaya dalam bukunya yang berjudul Equipping Parents to Fight for Sexual Holiness menyatakan bahwa proses pengasuhan dan pembentukan yang sehat terhadap seksualitas seseorang akan membuatnya bertumbuh menjadi pribadi yang memiliki integritas seksual, yaitu seseorang yang dapat berperan sesuai dengan identitas biologisnya, mereka dapat berkembang menjadi pribadi heteroseksual sesuai dengan desain Allah dan memiliki kesadaran serta dorongan untuk berfungsi secara optimal sesuai dengan identitas gendernya.

Dalam bukunya, Dr. Andik memaparkan tahap perkembangan seksualitas untuk membentuk integritas seksual yang sehat, yaitu:

1. Foundation Stage

a. Usia 0 – 2 tahun (tahap prasekolah). Masa ini paling penting untuk proses pembentukan identitas gender anak. Pada tahap ini, orangtua harus menanamkan suatu keyakinan pada anak bahwa ia lahir dalam penetapan Allah dan anak-anak datang ke dunia membawa misi Allah yang unik. Setiap orangtua dipanggil untuk menolong anak-anak mereka memahami misi tersebut, serta memperlengkapi anak-anak mereka untuk bisa memenuhi misi Allah tersebut. Untuk dapat menanamkan keyakinan tersebut pada diri anak, orangtua perlu mengembangkan sikap:

  • Penerimaan setiap anak apa adanya
  • Menghargai setiap anak sebagai imago Dei atau pancaran kemuliaan penciptaan
  • Miliki pengharapan yang besar atas hidup anak-anak

Sikap penerimaan, penghargaan dan pengharapan merupakan hal-hal yang perlu untuk pembentukan identitas gender yang sehat. Anak laki-laki yang diterima, dihargai dan diharapkan sebagai laki-laki akan membangun identitas gender yang sehat sebagai laki-laki. Anak perempuan yang diterima, dihargai dan diharapkan sebagai perempuan akan membangun identitas gender yang sehat sebagai perempuan.

b. Usia 3 – 5 tahun. Tahap ini adalah masa seorang anak membangun gender role behavior, yaitu perilaku gender yang sehat. Pada tahap ini, anak-anak akan melakukan proses identifikasi dan duplikasi, mencontoh perilaku orang-orang sekitarnya sesuai dengan identitas biologisnya. Anak laki-laki belajar atau mencontoh perilaku laki-laki dewasa di sekitarnya, anak-anak perempuan belajar atau mencontoh perilaku perempuan dewasa di sekitarnya.

2. Protection Stage

Tahap ini berlangsung pada usia Sekolah Dasar, yaitu antara usia 6 – 11 tahun. Di tahap ini orangtua membangun benteng perlindungan bagi anak-anaknya dari semua pengaruh buruk yang bisa menghancurkan hidupnya. Perlindungan yang kuat dibutuhkan untuk menopang perkembangan seksual anak-anak yang penuh integritas. Perlindungan yang diberikan dapat berupa:

a. Perlindungan fisik, yaitu orangtua memastikan anak-anaknya selalu berada di suatu tempat di mana orangtua atau guru atau pengasuh yang benar-benar baik dan peduli selalu bisa mengamatinya dan setiap saat bisa memberikan pertolongan dan perlindungan yang diperlukan. Anak-anak juga harus diajari dasar-dasar perlindungan diri, seperti:

  • Selalu menjauhi tempat-tempat yang sepi
  • Selalu berada di kerumunan teman-teman dan atau orang-orang yang dikenal atau keluarga, saat berpergian jangan pernah meninggalkan kelompoknya
  • Menolak orang yang mencoba mencium, memeluk, apalagi meraba-raba bagian tubuhnya. Dalam situasi ini, anak diajari untuk berteriak minta pertolongan atau berlari menjauhi sumber bahaya
  • Orangtua harus memilih dengan sangat hati-hati orang-orang yang akan berada di sekitar anak-anak mereka, seperti pembantu rumah tangga, sopir keluarga, guru les, guru di sekolah, pembina rohani di gereja, bahkan          anggota keluarga

b. Perlindungan jiwa, yaitu orangtua memastikan anak-anak tidak menjadi target dari berbagai nilai-nilai dan gaya hidup dunia yang disebarkan melalui media. Karena itu, orangtua harus memiliki kemampuan untuk mengendalikan media dalam hidup anak-anak mereka.

c. Perlindungan sosial, yaitu orangtua memastikan anak-anaknya memiliki lingkungan pergaulan yang sehat sehingga orangtua harus meminta hikmat dari Tuhan sebelum memilih tempat tinggal dan sekolah bagi anak-anaknya. Mengapa? Sebab lingkungan atau tempat tinggal dan sekolah yang buruk akan menghancurkan hidup dan integritas seksual anak-anak.

d. Perlingungan rohani, yaitu orangtua percaya bahwa setiap kita hidup dalam perjanjian dengan Allah dan perlindungan-Nya.

Tahap ini diakhiri dengan suatu masa persiapan memasuki masa pubertas pada usia 9 – 11 tahun. Setiap orangtua perlu memahami perubahan-perubahan yang akan terjadi dan mendampingi anak-anak mereka dalam proses menghadapi berbagai perubahan fisik dan kematangan seksual anak-anak.

3. Preparation Stage

Tahap ini berlangsung pada masa Sekolah Menengah, yaitu pada usia 12 – 17 tahun. Pada tahap ini, orangtua mempersiapkan anak-anaknya memasuki kehidupan sebagai orang dewasa. Dalam tahap ini, orangtua harus meletakkan dasar-dasar pernikahan yang benar serta mencegah anak-anaknya terlibat dalam aktivitas seks dini sehingga anak-anak berkembang dalam seksualitas yang penuh integritas.

4. Fulfillment Stage

Tahap ini berlangsung pada usia 18 – 23 tahun. Tahap ini merupakan tahap akhir keterlibatan orangtua secara langsung dalam pengembangan kehidupan seksual yang penuh integritas dalam kehidupan anak-anak mereka. Dalam masa ini, semua hal yang dipelajari dalam tahap-tahap sebelumnya diimplemantasikan. Dalam tahap ini, anak-anak akan mengambil keputusan kedua terpenting dalam hidupnya, yaitu memilih pasangan hidup. Pemilihan pasangan hidupnya hendaknya berlangsung dalam 2 tahap, yaitu:

a. Usia 18 – 20 tahun adalah masa berdoa secara spesifik untuk seseorang tertentu.

Pada masa ini, anak-anak telah bertemu dengan seseorang yang menarik hatinya, memenuhi kriteria yang diharapkannya dan dengan serius ingin mengetahui pimpinan Tuhan sebelum keputusan dibuat.

b. Usia 21 – 23 tahun adalah masa di mana keputusan tentang teman hidup dibuat, dilanjutkan dalam masa berpacaran, yaitu masa mempersiapkan pernikahan.

Seperti yang telah diuraikan di atas, integritas seksual (identitas gender) anak sebagai laki-laki atau perempuan terbentuk dari proses penanaman nilai-nilai yang dilakukan orang-orang sekitar (terutama yang signifikan di dalam hidup anak) selama tahun-tahun perkembangan anak. Dalam hal ini, orangtua atau pihak yang menjadi pengasuh anak sehari-hari memiliki peran yang sangat besar membentuk integritas seksual pada anak.

Pola interaksi dan pengasuhan yang baik dan benar serta positif dapat membentuk integritas seksual yang sehat pada anak.

Nah, untuk memahami berbagai bentuk gangguan atau penyimpangan identitas yang mungkin terjadi, orangtua dapat membacanya pada website ini, yaitu artikel yang berjudul Penyimpangan Identitas Seksual.

Monica, M.Psi., Psi.
IPEKA Counseling Center

Sumber referensi:
– Nevid, Jeffrey S., Rathus, Spencer A., & Greene, Beverly. (2003). Psikologi Abnormal (edisi kelima). Alih Bahasa: Tim Fakultas Psikologi Universitas Indonesia. Jakarta: Erlangga.
– Stanton, L., & Jones, Brenna B. (2004). How and When to Tell Your Kids about Sex. Alih Bahasa: Fenny Veronica dan Ina Elia. Surabaya: Momentum.
– Wijaya. Andik. (2010). Equipping Parents to Fight for Sexual Holiness (Memperlengkapi Orangtua untuk Berperang bagi Kekudusan Seksual). Kenza Publishing House.
– Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders, 4th ed. Washington: American Psychiatric Association.