Konflik Pernikahan Kristen

A problem isn’t really a problem unless you allow it to be a problem. A problem is really an opportunity. If you can see it that way, then every time you face a problem, you will realize that you’re really faced with something potentially positive.”
John Calvin Maxwell

Sekolah Kristen: Perahu Mengarungi Sungai

Di arungan kehidupan pernikahan Kristen, mungkin kita sering mendengar mitos yang menyatakan, jika pernikahan sudah diberkati di gereja serta pasangan benar-benar hidup bagi Tuhan, maka pernikahan tersebut akan bebas atau zero konflik. Apakah mitos itu sepenuhnya benar?

Tak dapat dimungkiri bahwa pernikahan Kristen terkadang masih diwarnai dengan berbagai macam konflik. Mulai dari tingkat yang biasa sampai level yang lebih besar. Biasanya konflik merupakan indikasi ada sesuatu yang salah dalam hubungan antara suami-istri, dan pernikahan sedang pada kondisi buruk.

Namun, kita perlu menyadari adanya dua individu yang berbeda sehingga konflik pun tak dapat kita hindari. Pernikahan terdiri dari satu orang laki-laki dan satu orang perempuan yang dibesarkan dengan latar belakang keluarga dan kebiasaan di dalam rumah yang berbeda. Hal tersebut mendasari cara pandang dan karakter mereka yang berbeda-beda.

Banyak keadaan sekitar atau perihal yang memicu terjadinya konflik. Coba kita cermati contoh-contoh percakapan di bawah ini:

Istri: Sayang, kita tersesat… Yuk, kita berhenti untuk menanyakan arah?
Suami: Tidak usah. Aku bisa menemukannya.
(Perbedaan pria dan wanita)

Sinta: Tetapi keluargaku selalu membuka hadiah pada malam Natal, bukan hari Natal.
Tono: Wah, sori, keluargaku selalu membuka hadiah pada waktu Natal.
(Perbedaan latar belakang keluarga)

Indri: Aku ingin menyimpan uang ini di tabungan.
Indra: Bulan depan aja, ya, kita kan butuh beli perabot baru.
(Perbedaan prioritas)

Istri: Kenapa setelah kamu membuka laci-laci ini, kamu selalu lupa menutupnya lagi?!
Suami: Ah, kamu juga pelupa kok. Buktinya aku selalu beresin sepatumu setiap kali kamu pulang kerja.
(Perbedaan kepribadian)

Dari beberapa contoh di atas, ternyata konflik dapat terjadi di dalam setiap hubungan. Konflik pun menjadi hal yang umum dan biasa dalam pernikahan.

Kita pun dapat mendefinisikan bahwa konflik bukanlah hal yang buruk; hanya merupakan adanya suatu perbedaan pandangan antara aku dan dia. Namun, jika pasangan tak mampu mengatasi konflik dengan cara yang sehat, maka konflik menjadi sarana untuk melukai dan menyakiti pasangan serta membuat pernikahan terpuruk. Sebagian besar cara yang kita gunakan untuk menyelesaikan konflik berasal dari cara penyelesaian konflik di tempat kita dibesarkan. Padahal, cara penyelesaian konflik yang dulu biasa kita praktikkan, belum tentu menjadi solusi yang terbaik bagi kita pada saat ini.

Ketika kita salah memilih cara penyelesaian konflik, tidak hanya kita yang merasakan dampaknya, tetapi juga dapat membuat orang lain ataupun anak-anak percaya bahwa masalah tersebut timbul karena kesalahan mereka. Juga, orang tua yang sering menyelesaikan konflik dengan pertengkaran akan membuat anak-anak mereka hidup di dalam ketakutan.

Berikut ini beberapa cara kurang sehat yang terkadang digunakan pasangan sebagai penyelesaian konflik:

Aku ingin kedamaian, berapa pun harganya.

Secara konstan mengikuti kemauan dari pasangan. Tujuan utama yang terpenting adalah merasa damai. Misalnya, “Ok, aku kira kita akan melakukan dengan cara seperti tadi yang kamu usulkan”, atau “Bukan, bukan kamu yang salah, tapi memang aku yang salah,” dan yang lain lagi: “Aku akan melakukan apa yang kamu mau, jadi tidak usah marah.” Dalam cara ini, perasaan negatif cenderung ditekan dan tidak diakui. Bisa kita bayangkan akibatnya akan meledak suatu saat nanti, bukan?

Memasang jarak

Seseorang tahu adanya konflik, tapi tetap memilih untuk tidak menyelesaikan konflik. Dia justru memilih menyiksa pasangannya dengan muka cemberut, diam, menarik diri, dan cuek untuk menyampaikan bahwa ia sedang bermasalah.

Itu kesalahanmu!

Selalu berniat untuk menang dengan adu argumentasi dan menekan pasangan. Misalnya, melipat tangan di dada, berdiri tegak sambil berkata, “Kita akan selesaikan dengan caraku,” atau “Ya, tapi bagaimana dengan kamu waktu kamu melakukannya?!

Manipulasi

Membuat pasangan melakukan apa yang diinginkan dengan menggunakan celaan untuk mengalihkan fokus pasangannya sehingga membuat pasangan benar-benar merasa bersalah. Misalnya, “Sayang, aku ingin sekali sering bersamamu, namun aku hanya bisa menyenangkanmu dengan membeli rumah yang besar dan mahal ini, jadi aku harus bekerja enam hari seminggu untuk membayarnyaA??” Hal itu dapat membuat pasangan jadi merasa bersalah karena merasa telah menuntut pasangannya.

Amarah

Suami-istri sering kali terperangkap sebuah siklus amarah. Misalnya, “Kamu tidak peduli. Satu-satunya orang yang kamu pikirkan hanyalah dirimu sendiri. Kamu egois.

Penyangkalan

Konflik? Konflik apa?” Menyangkali adanya konflik yang sedang berlangsung. Alasannya, “Jika diabaikan, konflik itu akan berlalu.” Menyangkali konflik justru tak akan membuat masalah lenyap.

Apakah kita termasuk orang-orang yang memiliki salah satu dari gaya penanganan konflik dengan cara-cara yang salah seperti di atas tadi?

Kita mesti selalu ingat bahwa tujuan pernikahan bukanlah agar terbebas dari konflik, namun lebih pada sama-sama belajar mengatasi dan menghadapi konflik dengan cara yang sehat tanpa harus merusak ikatan pernikahan ataupun saling melukai. Konflik akan menunjukkan bagian-bagian dalam diri yang mungkin tak mampu atau tidak akan bisa kita lihat tanpa konflik.

Cara Mengatasi Konflik 

1. Pencegahan selalu lebih baik daripada pemulihan 

Caranya? Dengan memahami kebutuhan dasar pasangan. Seorang suami atau pria memiliki satu kebutuhan dasar, yaitu ingin merasa dihormati. Sedangkan, istri ingin merasa dikasihi. Apabila kebutuhan masing-masing ini terpenuhi, maka baik suami maupun istri akan merasa bahagia. Dua prinsip ini sesuai dengan ayat Alkitab, yakni:

Kolose 3:19, “Dan para suami, hendaklah Saudara mengasihi istri dan bersikap baik kepadanya serta janganlah berlaku kasar terhadap dia.” (FAYH)

1 Petrus 3:1, “PARA istri, sesuaikanlah diri dengan rencana-rencana suami Saudara; sebab sekalipun pada mulanya mereka tidak mau mendengar Saudara berbicara tentang Tuhan, kemudian mereka akan ditundukkan oleh kelakuan Saudara yang patut dihargai dan tidak bercela. Kehidupan yang saleh jauh lebih besar pengaruhnya terhadap mereka daripada kata-kata.” (FAYH)

Efesus 5:33, “Jadi, sekali lagi saya katakan, seorang laki-laki harus mengasihi istrinya seperti dirinya sendiri; dan istri harus menghargai suaminya, mematuhi serta menghormatinya.A” (FAYH)

Apabila tiap-tiap kebutuhan tersebut tidak terpenuhi, pasangan mungkin akan bereaksi secara negatif. Dr. Emerson Eggerichs mengatakan, pasangan akan membentuk satu pola yang disebut dengan The Crazy Cycle atau “Siklus Kegilaan”. (Lihat bagan di bawah ini.)

Sekolah Kristen: Lingkaran Konflik Tidak Berkesudahan

Di saat pasangan tidak mendapatkan kebutuhan yang diinginkannya, ia akan merasa terluka, frustrasi, merasa tak dikasihi dan tak dihormati. Pertanyaan yang sering kaum wanita ajukan adalah, apakah pasanganku mengasihiku seperti aku mengasihi dia? Jika jawabannya tidak, wanita cenderung ingin mengubah pasangannya dengan cara mengeluh dan mengkritik agar pasangannya lebih bisa mengasihi. Namun, cara itu pasti gagal karena saat pria mendengar kritik tajam dan sikap menentang, maka ia akan menganggapnya sebagai penghinaan, lalu hal itu memunculkan perasaaan tidak dihormati.

Sebaliknya, pria cenderung bertanya, apakah aku dihargai? Jika tidak, maka pria mengambil tindakan mendiamkan dengan tujuan agar wanita berubah. Sekali lagi, itu juga pasti gagal karena sikap ini membuat wanita merasa tidak dikasihi.

Akhirnya, tanpa kasih, wanita bereaksi tidak hormat; dan tanpa hormat, pria bereaksi tidak mengasihi.

Pertanyaannya, sejauh mana kita menyadari pola the crazy cycle mendasari konflik di dalam kehidupan rumah tangga? Apakah kita mengasihi dan menghormati pasangan? Apakah kita pun merasa dihormati dan dikasihi oleh pasangan? Untuk bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan itu, maka perlu adanya kesediaan untuk melihat ke dalam pola lingkaran tersebut dan belajar mengungkapkan perasaan terhadap pasangan.

Kunci untuk mengatasi the crazy cycle ada pada Efesus 5:22-33.

Melalui tulisannya, Paulus sangat tegas menyatakan agar suami mengasihi istri, serta istri harus menghormati suami. Jika setiap suami-isteri Kristen memberlakukan prinsip ini ke dalam rumah tangganya, dapat dipastikan bahwa tak ada suami yang menindas istri, tidak ada istri yang tak menghormati suami, karena mereka saling memperlakukan dengan penuh kasih sayang dan penghormatan.

Mengerti kebutuhan mendasar pasangan “kasih & hormat” dapat menolong suami-istri keluar dari zona the crazy circle. Agar dapat memahami kebutuhan mendasar ini, suami dan istri dapat mengajukan pernyataan ini kepada pasangan:

  • Aku merasa dikasihi/dihormati jika kamu “ dan
  • Aku mau mengasihi/menghormati kamu dengan

 

2. Bersedia mengakui kesalahan tanpa harus menyalahkan

Misalnya, jangan membalas dengan mengatakan, “Aku akui tadi aku memang salah, tetapi aku tidak akan begitu kalau kamu tidak seperti itu,” atau “Iya, aku yang salah, tapi kamu juga salah” Dalam hal ini, sebaiknya kata tetapi dihilangkan. Belajarlah untuk mengakui kesalahan kepada pasangan secara tulus.

3. Saling mengizinkan untuk berbicara secara bebas dan mendengarkan dengan sikap yang terbuka tanpa membela diri (active listening)

Belajar untuk meciptakan suasana yang penuh pengalaman positif, yaitu pasangan dengan bebas mengungkapkan perasaan serta pikirannya. Misalnya, “Saya sangat senang kalau saya bercerita, kamu mendengarkan saya,” atau “Saya merasa khawatir kalau kamu tidak memberi saya kabar.”

4. Usahakan secara teratur merencanakan waktu dan tempat bersama pasangan untuk membicarakan masalah berdua

5. Saling mengerti; jangan saling menghakimi 

Tujuan pasangan adalah mengatasi konflik, bukan adu argumentasi yang dapat menyerang pasangan. Perilaku, tuduhan, kata-kata yang kasar, tidak sopan dan menyerang secara pribadi merupakan cara-cara yang tidak bisa dibenarkan dalam konflik dan yang menghancurkan pernikahan atau relasi! Bersikaplah rendah hati dan bersedia untuk mengampuni (lih. Efesus 4:31-32).

6. Menetapkan prinsip time out 

Di dalam membicarakan masalah, pasangan saling mengizinkan untuk meminta time out (waktu sejenak) jikalau tidak siap untuk menyelesaikan pembicaraan saat itu. Pihak yang meminta time out harus mengatakan kapan pembicaraan diteruskan.

7. Jika tidak bisa menemukan solusi dari konflik, carilah pertolongan!

Carilah seseorang yang Anda berdua hormati dan Anda dapat menemukan jalan keluar.

Sekolah Kristen: Konflik Pernikahan Kristen

Akhirnya, mengatasi konflik adalah keterampilan yang membutuhkan waktu serta latihan untuk melakukannya. “However, each one of you also must love his wife as he loves himself, and the wife must respect her husband.” (lihat Efesus 5:33, New International Version)

oleh Rina Novita Wijayanti, S.Th., M.K.

IPEKA Counseling Center

Sumber-sumber referensi:

– Bob & Yvonne Turnbull, Pasangan Hidup, (Jakarta: Metanoia, 2005)

– Emerson Eggerichs, Love and Respect, (United States of America: Integrity Publishers, 2004)

– Images courtesy of xdesktopwallpapers.com & www.100layercake.com